Filosofi Mengenai Subak! Baca Ini Sebelum Anda Mengunjungi Tegallalang, Bali

Sistem pengairan sawah tradisional Bali yang mendunia ini bahkan telah diakui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Dengan sistem subak yang begitu baik dan juga dipengaruhi oleh nila-nilai ajaran Hindu ini, menjadikan para petani hidup makmur dengan hasil panen yang memuaskan. Sebagai contoh, Anda bisa lihat bagaimana sistem Subak itu dilakukan dengan sangat baik di Tegallalang, yang kini tempat tersebut pun telah menjadi kawasan rice terrace fenomenal di Bali.

Tahukah Anda Apa itu Subak?

Bagi masyarakat Bali mungkin kata Subak sudah tidak asing lagi di telinga mereka, tetapi untuk Anda yang tidak tahu atau bahkan baru pertama kali mendengar tentu akan bertanya-tanya apa itu Subak. Subak adalah sebuah perkumpulan atau organisasi para petani yang mengatur sistem pengairan ataupun irigasi di sawah secara tradisional, agar pada saat bercocok tanam padi semua area persawahan dapat terairi secara merata. Sistem Subak sendiri pada prinsipnya ialah tentang aliran air dari atas dengan topografi persawahan yang berbukit atau rice terrace dan kemudian dialirkan ke seluruh areal persawahan secara adil. Alur distribusi tersebut diatur oleh seorang pemuka adat yang juga adalah seorang petani di Bali.

Credit: Surabaya Inside

Filosofi Subak

Hadirnya Subak merupukan sebuah wujud kearifan lokal yang membuat para petani selaras dengan alam guna tercapainya sebuah tujuan mendapatkan hasil panen yang hakiki. Subak memiliki konsep atau filosopi Tri Hita Karana. Kata “Tri” sendiri memiliki arti tiga, “Hita” yang artinya kebahagiaan atau kesejahteraan, sedangkan “Karana” yang berarti penyebab. Dengan kata lain, Tri Hita Karana adalah “Tiga Penyebab Terciptanya Kebahagiaan dan Kesejahteraan”. Sementara itu, dalam ilmu sejarah sistem Subak ini telah dikenal oleh masyarakat Bali sejak abad ke 11 Masehi. Temuan tersebut didasari berlandaskan pada Prasasti Raja Purana Klungkung (994 Saka/1072 M), dalam Prasasti itu disebutkan kata “kasuwakara”, yang diduga diambi dari asal kata “suwak” dan kemudian berkembang menjadi “subak”. Selain telah diakui oleh UNESCO, Subak juga telah mendapatkan pengakuan dari pakar pertanian Internasional, John S. Amber sebagai pengelolaan sistem pengairan yang unggul dan maju. Masyarakat Bali berpegang teguh pada prinsip yang luhur, sepanjang masih ada sawah dan air untuk irigasi, Subak di Bali akan sangat diperlukan, karena keberadaan Subak ini bisa menjadi wadah untuk menampung segala aspirasi, masukan dan keluhan para petani di dalam sekee (kelompok) itu sendiri ataupun ke pemerintah. Untuk setiap kelompok subak di Bali akan memiliki sebuah pura yang dinamakan pura Ulun Carik atau pura Bedugul, di pura inilah dipercaya sebagai stananya Tuhan dalam manifestasinya sebagai dewi Kesuburan atau Dewi Sri, dan pada hari-hari tertentu digelar sebuah upacara atau piodalan untuk memuja Dewi Kesuburan, sebagai ucapan terima kasih serta hasil yang melimpah dan agar dijauhkan dari hama.

Subak di Tegallalang dan Rice Terrace lainnya di Bali Tegallalang.

Tegallalang telah menjadi salah satu destinasi wisata favorit wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung ke Bali. Area persawaan yang dibuat rice terrace ini memiliki sistem subak sangat baik, Anda bisa mengamati langsung bagaimana sistem irigasi subak berjalan dan bagaimana cara kerja petani memproduksi beras. Banyak dari mereka yang datang berkunjung merasa takjub dengan keindahaan alam pertanian yang tertata begitu rapih ditambah dengan balutan budaya dan keramahan masyarakat sekitar. Jatiluwih Tak kalah indah dengan sawah Tegallalang yang memiliki sistem Subak, sawah Jatiluwih juga disebu-sebut menjadi ikon Subak sebagai warisan budaya dunia. Namun, setelah penetapan tersebut, akhir-akhir ini nasib Jatiluwih dipertanyakan, sebab Jatiluwih kini telah dianggap sebagai kawasan tujuan pariwisata, dan bukan lagi lahan pertaniaan yang harus dilestarikan. Tercatat, dalam tiga tahun terakhir ini ada lebih dari 200.000 turis, baik itu domestik maupun mancanegara yang berkunjung ke tempat ini. Sidemen Desa Sidemen juga terkenal dengan objek wisata persawahan yang terhampar begitu luas dan hijau. Dengan sistem Subak yang maksimal, menjadikan area persawahan ini tumbuh dengan subur. Anda bisa turun dan mendekat untuk mempelajari bagaimana sistem Subak yang ada di sawah Sideman dapat berjalan dengan baik. Di sana Anda bisa melihat berbagai aktifitas para petani, mulai dari pembibitan sampai dengan panen. Munduk Selain ketiga sawah tersebut yang memiliki sistem Subak, ada juga sawah Munduk yang terletak di desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng. Wilayahnya terbentang di perbukitan sampai tepi barat laut kaldra Bedugul, di mana padi dan rempah-rempah perkebunan menjadi pemandangan spektakuler di daerah ini.

Credit: Wira Rafting Bali

Hal Menarik yang Bisa Anda Terapkan dalam Kehidupan dari Sistem Subak

Hal yang menarik tentang Subak bukan sekedar pemandangan sawah berundak, tetapi bagaimana masyakarat Bali dalam hidup bertani. Dari sistem Subak inilah kita bisa melihat dan belajar, bahwa sebuah kehidupan yang didasari dengan sistem pengaturan yang adil dan merata, maka semua masalah akan dapat terselesaikan secara baik dengan hasil maksimal.

Credit: Instagram: @ramatoursholland

updated
  • 77% OFF2, 3 Nights Starting From:Rp 2,100,000per package | inclusive of taxes